Uncategorized

Keluar Dari Pekerjaan, Pasutri Ini Pilih Bertanam Hidroponik

Summary

Empat pipa paralon ukuran besar tertempel di tembok pagar rumah di Desa Kalibelo, Kecamatan Gampengrejo ini. Tersusun dari atas ke bawah. Di bagian atasnya berlubang-lubang. Tiap lubang terpasang pot kecil untuk tanaman hidroponik, netpot. Di netpot itu sudah berdiri sayuran […]

Empat pipa paralon ukuran besar tertempel di tembok pagar rumah di Desa Kalibelo, Kecamatan Gampengrejo ini. Tersusun dari atas ke bawah. Di bagian atasnya berlubang-lubang. Tiap lubang terpasang pot kecil untuk tanaman hidroponik, netpot. Di netpot itu sudah berdiri sayuran jenis pakcoy, sayuran yang masuk kelompok sawi-sawian.

Sayuran-sayuran itu terlihat segar. Daunnya juga mengembang lebar dan gemuk. Menariknya, sayuran itu bebas diambil oleh mereka yang menginginkannya. “Khusus yang itu memang untuk diambil orang-orang, kalau mereka mau,” kata Arum Puspita Purbasari, si pemilik tanaman.

baca juga :Khususnya jika kita menerapkan gaya hidup yang tidak sehat

Arum sengaja membagi-bagikan sawi jenis pakcoy itu ke warga yang ingin. Sebab, hasil budidayanya dengan sistem hidroponik selalu surplus. Sementara dia hanya punya pasar terbatas untuk sayuran pakcoy tersebut.

Wanita 29 tahun ini memang petani sayuran hidroponik. Selain pakcoy dia juga menanam selada impor. Aktivitas yang sebenarnya baru dia lakukan selama sembilan bulan. Sejak dia, dan suaminya resign dari perusahaan tempat keduanya bekerja sebelumnya.

“Kami (awalnya) sama-sama bekerja di Surabaya. Bosan dengan rutinitas yang sama. Selain itu waktu itu juga mau punya bayi,” terang Tia Wicaksono, 29, sang suami.

Menurut Tia, mereka tidak tega jika harus menitipkan anak. Karena itu keduanya memilih berhenti dari pekerjaan yang sudah mereka tekuni selama empat tahun. Setelah itu mereka memanfaatkan lahan nganggur yang ada di rumah. Halaman belakang seluas 14 x 6 meter dimanfaatkan untuk budidaya sayuran hidroponik.

“Semula kami nggak ada persiapan untuk menjual (sayuran hasil panen) karena tidak ada pasarnya,” kenang Tia.

Pasangan ini belajar metode hidroponik dari {internet|web}. Sayuran yang ditanam adalah selada impor. Mereka membuat tiga rak dari pipa-pipa paralon sebagai tempat netpot. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Percobaan pertama itu langsung berhasil. Sayuran tumbuh subur.

Panenan pun terbilang melimpah. Hasil pertama itu mereka bagi-bagikan ke tetangga. Meskipun demikian, ternyata masih tersisa banyak. Karena itulah keduanya mencoba mencari tempat untuk memasarkan.

Sempat bingung, pasutri ini akhirnya mencoba mendatangi salah satu swalayan di Pare. Ternyata persyaratannya cukup mudah. Cukup membawa contoh sayuran.

“Satu kali panen, waktu itu bisa dapat dua kali balik modal,” kata Arum, perempuan kelahiran tahun 1991 ini.

Awalnya, lokasi penanaman hidroponiknya tak seperti sekarang yang beratap plastik UV. Tapi hanya beratap langit. Karena itulah ketika musim penghujan banyak sayurannya yang busuk.

Melihat itu mereka kemudian memasang jaring paranet sebagai atap. Penyangganya dari pipa paralon yang diisi semen. Metode ini ternyata berpengaruh pada tanaman. Sayuran jadi kutilang, alias kurus tinggi langsing.

Mereka pun mengganti paranet dengan plastik UV. Hanya, ada satu masalah saat itu. Batang penyangga yang lama ambruk saat ada hujan deras. Pipa paralon berisi semen itu tak kuat menyangga beban. Akhirnya, pipa peyangga pun diganti berbahan galvalum.

Perjuangan mereka ternyata tak berlangsung mudah. Butuh berbulan-bulan untuk menemukan pola tanam yang cocok. Agar tanaman bisa dipanen setiap hari. Mereka pun melakukan tiga tahapan yang harus dilakukan hampir bersamaan. Setelah benih jadi tanaman remaja dipindah ke tanaman yang siap panen. Di waktu yang sama pula mereka mulai melakukan pembenihan lagi.

Kini, Arum mulai mengembangkan sistem bertanam hidroponik dengan wick system atau sistem sumbu. Sistem ini bisa membuat bertanam hidroponik semakin tidak ribet.

Ilmu bercocok tanam tanpa tanah ini kemudian dia tularkan hingga ke Jakarta. “Karena teman di Jakarta waktu itu kesulitan mencari sayur karena banyak pasar yang tutup akhirnya saya kirim satu paket peralatan hidroponik,” terang Arum.

Dalam satu peralatan ini terdapat tiga benih tanaman, peralatan tanam, hingga vitamin sayuran. Upayanya itu selain membantu temannya juga berusaha mengubah pemikiran masyarakat. Yaitu bertanam hidroponik itu tak mahal dan tak perlu lahan luas.

Ternyata, paket wick system ini menarik minat banyak orang. Kebanyakan tertarik karena mereka ingin memulai gaya hidup sehat. Yaitu dengan mulai menanam dan mengonsumsi tanaman organik.

Kini Arum dan suaminya juga mengembangkan metode tanam bernama microgreen. Sayuran berukuran kecil. Kelebihan dari sayuran ini adalah nutrisinya yang bagus dan baik bagi kesehatan. Masa panennya juga lebih cepat.

baca juga :prediksi 10 tren perkembangan teknologi pada 2020.